Showing posts with label Keharusan Doa. Show all posts
Showing posts with label Keharusan Doa. Show all posts

Thursday, May 5, 2011

Doa dan Yakin


“Suatu sore, saya pulang kantor di New York dengan angin cukup dingin bertiup kencang di muka saya. Saya kira saya bawa selempang tebal nan hangat saya, tapi ketika saya terus berjalan melawan badai, selendang itu hilang. Saya berbalik, mencari sepanjang jalan, menggeledah kantor saya, tapi sia-sia. Lalu saya sadar, saya pasti sudah menjatuhkannya, dan berdoa pada Allah supaya saya bisa menemukannya; sebab dalam cuaca buruk seperti itu, akan sangat beresiko meneruskan perjalanan tanpa selempang. Saya cari lagi, ke sana kemari sepanjang jalan, tapi tak berhasil. Tiba-tiba, saya lihat seorang pria di seberang jalan memegang sesuatu di tangannya. Saya menyebrang dan bertanya padanya apakah itu selempang saya? Ia serahkan ke saya dan berkata, ‘Selempang ini tertiup angin dan sampai ke saya.’ IA yang mengendarai badai, telah memakai angin sebagai cara menjawab doa”—WILLIAM HORST
DOA tidak berdiri sendiri. Ia bukanlah tugas terisolasi dan prinsip independen. Doa hidup dalam asosiasi dengan tugas orang Kristen lainnya, menikahi prinsip lainnya, sekutu dari kasih karunia lainnya. Tapi bagi iman, doa adalah kesatuan tak terpisahkan. Iman memberinya warna dan nada, membentuk karakternya, dan mengamankan hasilnya.

Yakin (trust) adalah iman menjadi absolut, tersahkan, terpenuhi. Ada, saat dikatakan semua sudah selesai, semacam taruhan dalam iman dan prakteknya. Tetapi yakin adalah percaya dengan teguh, iman mekar sempurna. Yakin adalah tindakan sadar, fakta yang kita bisa rasakan. Menurut konsep Kitab Suci, ia adalah mata dari jiwa lahir baru, dan telinga dari jiwa yang dibaharui. Adalah perasaan jiwa, mata rohani, telinga, kecapan, perasaan—masing-masing dan semua hal inilah yang berkaitan dengan yakin. Amat berkilau, amat istimewa, amat sadar, amat berkuasa, dan lebih dari itu semua, betapa Alkitabiahnya yakin yang demikian! Betapa berbedanya dengan banyak bentuk kepercayaan modern, yang begitu rapuh, kering dan dingin! Fasa-fasa kepercayaan baru ini tidak membawa keinsafan dari kehadiran mereka, tak ada buah “sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” (1 Petrus 1:8) dihasilkan dari prakteknya. Mereka, sebagian besar, berpetualang dalam keboleh jadian jiwa. Tak ada yakin teguh nan aman dalam apa saja. Seluruh transaksi terjadi di alam Mungkin dan Barangkali.

Yakin bagaikan hidup, ialah perasaan, walau lebih dari hanya perasaan. Hidup tak berasa adalah kontradiksi; yakin tak berasa ialah salah kaprah, lamunan, kontradiksi. Yakinlah yang amat berasa dari semua atribut perasaan. Ia seluruhnya perasaan, dan berkarya hanya oleh kasih. Kasih tak berasa sama mustahilnya dengan yakin tak dirasakan. Yakin yang kini kita bicarakan adalah suatu keinsafan. Keinsafan tak berasa? Sungguh janggal!

Yakin melihat Allah melakukan hal-hal di sini dan kini. Ya, lebih lagi. Ia bangkit jadi bukit megah dan melihat ke dalam yang tak terlihat dan kekal, menyadari bahwa Allah telah melakukan banyak hal, dan menganggapnya selesai dilakukan. Yakin membawa kekekalan ke dalam tawarikh dan ihwal waktu, menjelmakan hakikat harapan jadi realitas pencapaian, dan mengubah janji jadi pemilikan masa kini. Kita tahu saat kita yakin sama halnya kita tahu kita melihat, sama halnya kita menyadari indra peraba kita. Yakin melihat, menerima, memegang. Yakin itu sendirilah saksinya.

Toh, sering kali, iman terlalu lemah untuk mendapat yang terbaik dari Allah dengan segera; jadi ia mesti menunggu dalam ketaatan oleh kasih, yang kuat, penuh doa, dan yang menekan, sampai ia bertumbuh dalam kekuatan dan mampu membawa turun kekekalan, ke dalam alam pengalaman dan waktu.

Di poin ini, yakin memassakan semua gayanya. Di sini ia memegang. Dan dalam pergulatan, sambaran yakin semakin dahsyat, dan menggapai, untuk dirinya, semua yang Allah telah lakukan bagi yakin menurut hikmat kekalNya dan kecukupan kasih karunia. 

Di perihal menunggu dalam doa, doa yang terhebat, iman bangkit ke tingkat tertingginya dan menjadi benar-benar hadiah Allah. Ia menjadi watak terberkati dan ekspresi jiwa yang diamankan oleh hubungan konstan dengan dan lamaran tanpa lelah pada Allah. 

Yesus Kristus mengajar jelas bahwa iman adalah syarat atas mana doa dijawab. Saat Tuhan kita mengutuk pohon ara, para murid amat terkejut melihat keringnya pohon ara benar-benar terjadi, dan tanggapan mereka mengindikasi mereka dalam keluguan. Saat itulah Yesus berkata, “Percayalah kepada Allah!” (Markus 11:22)
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” Markus 11:23
Di mana-mana, yakin tidak bertumbuh sesiap dan sekaya seperti di dalam kamar doa. Pemekarannya dan perkembangannya pesat dan sehat saat mereka teratur dan baik-baik dijaga. Saat pertunangan ini tulus, penuh, dan bebas, yakin mekar dengan sangat baik. Mata dan hadirat Allah memberi hidup bergairah kepada yakin, sama seperti mata dan hadirnya matahari membuat buah dan bunga tumbuh, dan semuanya gembira dan bersinar dalam hidup lebih penuh.

“Percayalah kepada Allah,” (Markus 11:21) dan “Dalam Tuhan aku percaya” (Filipi 2:24) membentuk prinsip kunci dan pondasi doa. Pada mulanya, bukanlah yakin dalam Firman Allah, tetapi sebetulnya, yakin dalam Pribadi Allah. Karena yakin dalam Pribadi Allah harus mendahului yakin dalam Firman Allah. “Kau percaya kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku,” (Yohanes 14:1—KJV) adalah tuntutan yang Tuhan kita buat atas keyakinan pribadi murid-muridNya. Pribadi Yesus Kristus harus menjadi sentral di mata yakin. Kebenaran besar ini Yesus coba impresikan pada Marta saat saudaranya meninggal di rumah di Betania. Marta memaksa percayanya dalam fakta kebangkitan saudaranya. 
"Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."  Yohanes 11:24

Tuhan angkat yakinnya Martha di atas fakta belaka kebangkitan, ke diriNya pribadi, dengan berkata :
“Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." Yohanes 11:25-27
Yakin, pada fakta historis atau pada catatan belaka dapat menjadi hal yang sangat pasif, tapi yakin pada seseorang, memvitalisasi kualitasnya, membuatnya berbuah, dan mengimpartasi kasih. Yakin yang mengimpartasi doa, berpusat pada Seseorang.

Yakin melangkah bahkan lebih jauh dari ini. Yakin yang mengilhami doa kita tidak boleh hanya yakin dalam Pribadi Allah dan Kristus, tetapi pada kemampuan dan kesudian Allah mengabulkan hal yang didoakan. Bukan hanya “Percayalah kepada Tuhan,” tetapi juga, “sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal.” (Yesaya 26:4)

Yakin yang Tuhan kita ajarkan sebagai syarat doa mujarab, bukanlah dari kepala tapi dari hati. Ini adalah yakin yang “tidak bimbang hatinya.” (Markus 11:23) Yakin seperti itu punya jaminan Ilahi bahwa ia akan dihargai dengan jawaban besar dan memuaskan. Janji kuat Tuhan kita menurunkan iman ke masa kini, dan memastikan jawaban masa kini.

Percayakah kita tanpa ragu? Saat kita berdoa, percayakah kita, bukan kita akan terima hal-hal yang kita minta suatu hari nanti, tapi kita terima di tempat itu, saat itu juga? Begitulah pengajaran dari Kitab Suci yang inspirasional ini. Betapa kita butuh berdoa, "Tuhan tambahkanlah iman kami," (Lukas 17:5) sampai ragu menyingkir, dan yakin tulus mengklaim berkat yang dijanjikan, sebagai sungguh miliknya sendiri.

Ini bukan syarat yang mudah. Ini tercapai hanya setelah banyak gagal, setelah banyak berdoa, setelah banyak menanti, setelah banyak pencobaan iman. Kiranya iman kita begitu bertambah sampai kita sadar dan menerima semua kepenuhan yang ada dalam Nama yang menjamin melakukan begitu banyak.

Tuhan kita menaruh yakin sebagai pondasi paling dasar dari doa. Latar belakang doa ialah yakin. Seluruh hasil pelayanan Kristus dan karyaNya bergantung pada yakin tulus dalam BapaNya. Pusat dari yakin adalah Allah. Gunung kesulitan, dan semua rintangan lainnya dari doa dicampakkan dari jalan oleh yakin dan mitra maskulinnya, iman. Ketika yakin sudah sempurna dan tanpa ragu, doa sederhananya adalah tangan yang terulur, siap menerima. Yakin yang disempurnakan ialah doa disempurnakan. Yakin berharap menerima hal yang diminta—dan mengambilnya. Yakin bukanlah percaya Allah bisa dan akan memberkati, namun Ia memberkati di sini dan kini. Yakin selalu beroperasi di masa sekarang. Harapan melihat masa depan. Yakin melihat masa kini. Harapan mengharap. Yakin memiliki. Yakin menerima apa yang doa dapatkan. Sehingga apa yang doa butuh, di semua waktu, ialah yakin yang tinggal menetap dan melimpah.

Kurangnya yakin yang patut diratapi dan hasil gagal para murid melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka untuk dilakukan, terlihat di kasus anak yang sakit ayan, yang dibawa bapanya ke sembilan muridNya sementara Tuhan mereka      sedang di atas Gunung Transfigurasi. Seorang anak, sangat menderita, dibawa ke orang-orang ini untuk disembuhkan dari penyakitnya. Mereka telah diamanatkan melakukan teutama sekali pekerjaan seperti ini. Ini adalah bagian misi mereka. Mereka coba mengusir iblis dari sang anak, tetapi gagal total. Iblis terlalu kuat bagi mereka. Mereka dipermalukan karena gagal, dan dipenuhi rasa malu, sementara musuh mereka bersorak-sorai. Di tengah-tengah kebingungan insiden kegagalan, Yesus mendekat. Ia diinformasikan keadaannya dan diberi tahu kondisi sehubungan dengan itu. Inilah cerita berikutnya:
“Maka kata Yesus: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga.  Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)"  Matius 17:17-21
Di manakah terletak susahnya orang-orang ini? Mereka telah teledor membina iman mereka dengan doa, dan akibatnya, keyakinan mereka gagal sama sekali. Mereka yakin, tidak pada Allah, ataupun Kristus, apalagi kesahihan misiNya atau misi mereka. Seperti itu jugalah, yang telah terjadi tak hingga banyaknya sampai sekarang, dalam tak terhitung banyaknya krisis di gereja Allah. Kegagalan disebabkan kurangnya yakin, atau lemahnya iman, dan ini, sebaliknya, dari kurangnya berdoa. Banyak kegagalan upaya kebangunan rohani dapat dirunut dari alasan yang sama. Iman tidak dipelihara dan dibuat berkuasa oleh doa. Lalainya kamar doa adalah sebab dari kebanyakan kegagalan rohani. Dan hal ini juga berlaku dalam pergumulan pribadi kita melawan iblis seperti halnya saat kita berusaha maju berperang mengusir iblis. Seringnya berlutut dalam persekutuan pribadi dengan Allah, adalah satu-satunya kepastian bahwa kita akan memilikiNya dengan kita entah dalam pergumulan pribadi kita, atau upaya kita memenangkan pendosa.

Di mana-mana, di saat mendekatnya orang-orang padaNya, Tuhan kita menaruh yakin pada diriNya, dan keIlahian misiNya, di garis terdepan. Ia memberi tiada definisi yakin, dan ia meramaikan tiada diskusi teologi, maupun analisisnya; sebab Ia tahu bahwa manusia akan melihat apa itu iman dari apa yang iman lakukan; dan dari praktek bebasnya, yakin bertumbuh, spontan dalam hadiratNya. Itu hasil karyaNya, kuasaNya, dan PribadiNya. Hal-hal ini menghiasi dan menciptakan atmosfer sangat kondusif untuk praktek dan perkembangan yakin. Yakin sama sekali terlalu mengagumkan sederhana untuk arti lisan; terlalu tulus dan spontan untuk terminologi teologi. Kesederhanaan yang sangat dari yakin, itulah yang mengguncangkan orang-orang. Mereka berpaling pada hal-hal besar yang akan datang, padahal "firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." (Roma 10:8)

Sewaktu kabar dukacita kematian putrinya diberi tahu ke Yairus, Tuhan kita menyela: "Jangan takut,” Ia berkata dengan santai, “percaya saja!" (Markus 5:36) Pada wanita yang mengalami pendarahan, yang takut gemetar di hadapanNya, Ia berkata :
"Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" Markus 5:34
Saat dua orang buta mengikutiNya, memaksa masuk ke rumah, Ia berkata :
"Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka.” Matius 9:29-30
Ketika orang lumpuh diturunkan lewat atap rumah di mana Yesus tengah mengajar, dan ditempatkan di hadapanNya oleh keempat temannya, tercatat berikutnya :
“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Matius 9:2
Sewaktu Yesus menyuruh pulang perwira yang hambanya sakit parah, yang datang ke Yesus dengan doa agar Yesus mengucapkan Firman kesembuhan, tanpa perlu pergi ke rumahnya, Ia lakukan dengan cara berikut :
“Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.” Matius 8:13
Saat penderita kusta yang malang sujud menyembah di kaki Yesus dan menjerit meminta pertolongan, "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku," (Matius 8:2) Yesus segera mengabulkan permintaannya dan pria itu memuliakanNya dengan suara nyaring. Kemudian Yesus berkata padanya, "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Lukas 17:19)

Perempuan Siro-fenisia datang pada Yesus membawa perkara putrinya yang sangat menderita, seakan-akan dialah yang menderita, "Tuhan, tolonglah aku," (Matius 15:25) sembari melakukan perjuangan heroik nan mengagumkan. Yesus menghargai imannya dan doanya, Ia berkata :
"Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” Matius 15:28
Setelah para murid gagal total menengking iblis dari anak yang sakit ayan, ayah dari anak itu datang ke Yesus dengan tangisan tersedu-sedu dan hampir putus asa, “Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." Tetapi Yesus menjawab, "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:22-23)

Bartimeus buta sedang duduk di pinggir jalan, mendengar Tuhan kita saat Ia lewat, dan berteriak memilukan dan hampir putus asa, “"Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" (Markus 10:48) Telinga peka Tuhan kita segera menangkap suara doa, dan Ia berkata ke pengemis itu :
"Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” Markus 10:52
Kepada wanita yang menyesali dosanya, yang menangis, yang membasuh kakiNya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, Yesus mengucapkan kata-kata bahagia menghibur jiwa : "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Lukas 7:50)

Suatu hari Yesus menyembuhkan sepuluh penderita kusta bersamaan, menjawab kesatuan doa mereka, "Yesus, Guru, kasihanilah kami," (Lukas 17:13) dan Ia memberi tahu mereka untuk pergi dan memperlihatkan diri mereka ke imam-imam. “Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.” (Lukas 17:14)

sumber: Bab 3 buku "The Necessity of Prayer" karangan EM Bounds

Saturday, April 2, 2011

Doa dan Iman (II)


“Para tamu di suatu hotel sedang diganggu ketikan tuts berulang-ulang sebuah piano, oleh seorang gadis kecil yang tidak punya pengetahuan musik. Mereka mengeluh pada pemilik hotel dengan harapan keusilan itu dihentikan. ‘Saya minta maaf anda terganggu,’ katanya, ‘Tapi gadis ini anak dari salah satu tamu terbaik saya. Saya hampir tidak mungkin menghalanginya menyentuh piano. Tetapi bapanya yang sedang pergi satu dua hari, akan pulang besok. Kalian setelahnya dapat menghampiri dia dan membereskan masalah ini.’ Ketika bapanya pulang, ia melihat putrinya di ruang resepsionis dan seperti biasa memetik-metik piano. Ia berjalan dari belakangnya dan menaruh tangannya di bahu putrinya, memegang tangan anaknya, dan memainkan beberapa lagu sangat indah. Demikianlah halnya kita dan demikianlah kelak, suatu hari nanti. Saat ini, kita hanya bisa memainkan lagu yang sumbang dan bising, tetapi suatu hari, Tuhan Yesus akan mengambil tangan doa dan iman kita dan memakainya untuk menciptakan lagu Surgawi”—Anonim

IMAN yang sahih nan sejati haruslah definit/tertentu dan lepas dari ragu. Bukan sekedar biasa-biasa dalam karakter; bukan kesadaran picisan pada diri, kebaikan dan kuasa Allah; tetapi suatu iman yang percaya segala hal “yang dikatakannya itu akan terjadi” (Markus 11:23). Seperti iman itu spesifik, maka seperti itulah, jawabannyapun juga definit : “maka apa saja yang kamu minta akan diberikan kepadamu” (Markus 11:24). Iman dan doa memilih hal demi hal dan Allah menyerahkan diriNya melakukan tepat persis yang iman dan doa tak putus-putus nominasikan, dan petisikan padaNya agar diselesaikan.

Alkitab ARV(American Revised Version), menggubah ayat ke-dua puluh empat pasal sebelas kitab Markus, demikian : “Karena itu Aku berkata kepadamu, semua hal apapun juga itu, yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, dan kau akan menerima semuanya itu.” Iman yang sempurna selalu menjaga dalam genggamannya apa yang doa sempurna minta. Sungguh besar dan lengkap luas daerah operasi : “Semua hal apapun juga itu”! Betapa definit dan spesifiknya janji—“Kau akan menerima semuanya itu.”

Pokok persoalan kita ialah iman kita—soal pertumbuhannya, dan aktivitas kedewasaannya yang dahsyat. Iman yang menggapai dan menjaga dalam genggamannya semua hal yang sangat dimintanya, tanpa ragu, sangsi, ataupun takut—itulah iman yang kita butuhkan—iman seperti itulah mutiara yang sangat berharga (Matius 13:46), di dalam proses dan praktek doa.

Pernyataan Tuhan kita tentang iman dan doa yang dikutip sebelumnya sangat-sangat penting. Iman harus definit, spesifik; permohonan lengkap lagi jelas untuk hal-hal yang diminta. Iman bukanlah suatu yang berbayang-bayang, samar-samar, tak pasti; ia mestinya sesuatu yang lebih dari kepercayaan abstrak pada kehendak Allah dan kemampuanNya melakukan bagi kita. Ia harus berupa permintaan definit nan spesifik, dan mengharapkan hal-hal yang mana kita minta. Perhatikan bacaan Markus 11:23 :

“Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”

Seberapa definitnya iman dan permintaan, demikianlah definitnya jawabannya. Yang diberikan bukanlah sesuatu selain yang didoakan, tetapi hal-hal aktual yang dicari dan disebut. “Ia akan mendapatkan apapun juga yang ia minta.” (Markus 11:23—KJV) Frasa, “Ia akan mendapatkan”, sangatlah imperatif (bersifat perintah—red). Hal pengabulan mestinya tak terbatas dalam kualitas dan kuantitas.

Iman dan doa memilih subyek untuk petisi, dengan jalan itu menentukan apa yang akan Allah lakukan. “Ia akan mendapatkan apapun juga yang ia minta.” (Markus 11:23—KJV) Kristus menyiapkan diriNya mensuplai persis dan penuh, semua yang diminta iman dan doa. Jika pesanan pada Tuhan dibuat jelas, spesifik, dan definit, Allah akan mengisinya, tepat dan selaras seperti apa yang diminta. 

Iman bukanlah kepercayaan abstrak pada Firman Allah, ataupun keyakinan mental belaka, apalagi pengertian dan kehendak yang lugu mengiyakan; bukan juga penerimaan pasif fakta-fakta, berapapun lengkapnya dan sakralnya. Iman adalah suatu operasi Allah, penerangan Ilahi, energi suci yang ditanamkan Firman Allah dan Roh dalam jiwa manusia, suatu prinsip Ilahi dan spiritual yang mengambil Sang Supernatural dan membuatNya menjadi sesuatu yang dapat dipahami kemampuan waktu dan indra. 

Iman berurusan dengan Allah, dan sadar akan Allah. Ia berurusan dengan Tuhan Yesus dan melihat seorang JuruSelamat di dalam Dia; ia berurusan dengan Firman Allah dan merenggut kebenaran; ia berurusan dengan Roh Allah, dan digairahkan dan diinspirasi api kudusNya. Allah adalah tujuan utama dari iman; sebab iman bersandar penuh pada FirmanNya. Iman bukanlah tindakan jiwa tanpa tujuan, tetapi pandangan pada Allah dan sandaran pada janjiNya. Seperti halnya kasih dan harapan selalu punya tujuan, begitu juga iman. Iman tidak hanya percaya segala sesuatu; Ia percaya Allah, bersandar padaNya, meyakini FirmanNya.

Iman melahirkan doa, dan bertumbuh lebih kuat, menyerang lebih dalam, naik lebih tinggi, dalam pergumulan dan pergulatan petisi adikuasa. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, jaminan dan realisasi dari warisan orang-orang kudus. Iman, juga, rendah hati dan berteguh hati. Ia bisa menunggu dan berdoa; iman bisa diam di atas lututnya, atau berbaring di atas debu. Imanlah satu-satunya syarat utama dari doa; kurangnya iman mengakari semua doa yang buruk, doa yang rapuh, doa yang sedikit, doa tak terjawab.

Kodrat dan makna iman lebih terdemonstrasi dari apa yang ia lakukan daripada definisi apapun yang melatarinya. Jadi, jika kita berpaling ke catatan iman yang diberi ke kita dalam gulungan maha terhormat, yang menyusun pasal kesebelas kitab Ibrani, kita melihat suatu hasil gemilang dari iman. Sungguh mulia daftar ini—dari pria dan wanita iman! Betapa menakjubkan prestasi-prestasi yang dicatat, dan ditujukan memuji iman! Sang penulis berilham, yang menguras sumber dayanya menginventori orang-orang kudus Perjanjian lama—yang adalah contoh masyhur dari iman yang menakjubkan—akhirnya  berteriak : 
“Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi,” Ibrani 11:32
Lalu penulis kitab Ibrani, melanjutkan pula, dalam alunan indah, menceritakan tindakan heroik tak tercatatkan yang dikerjakan lewat iman orang-orang masa silam, yang “dunia ini tidak layak bagi mereka.” (Ibrani 11:38) “Dan mereka semua,” katanya, “iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.” (Ibrani 11:39)

Betapa era pencapaian mulia akan terbit bagi gereja dan dunia, hanya jika, dapat kembali muncul ras orang-orang kudus dengan iman dan doa adikuasa yang sedemikian! Bukan luar biasa intelektual yang gereja butuhkan; lebih-lebih lagi orang kaya raya yang waktu tuntut. Bukan orang-orang dengan pengaruh sosial yang besar yang hari ini perlukan. Di atas semua orang dan semua hal lainnya, manusia-manusia iman, pendoa-pendoa adikuasa, pria dan wanita yang seperti orang-orang kudus dan pahlawan yang disebut satu persatu di kitab Ibrani, yang “iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik”(Ibrani 11:39), merekalah yang gereja dan seluruh ras manusia di dunia butuhkan. 

Banyak orang, masa kini, beroleh “kesaksian yang baik” karena amal mereka, karena kepandaian bawaan dan bakat yang hebat, tapi sedikit yang beroleh “kesaksian yang baik” karena iman mereka yang hebat dalam Allah, atau karena hal-hal menakjubkan yang tengah dikerjakan lewat doa-doa hebat mereka. Saat ini, sama seperti kapanpun juga, kita butuh manusia dengan iman yang dahsyat dan yang hebat dalam doa. Kedua hal ini adalah kebajikan pokok yang membuat manusia besar di mata Allah, dua hal yang menciptakan kondisi kesuksesan spiritual sejati di dalam hidup dan karya gereja. Inilah persoalan utama kita untuk tetap menjaga iman dengan kualitas dan tekstur sedemikian, yang berkenan bagi Allah; yang menggapai, dan memegang dalam genggamannya, hal-hal yang dimintanya, tanpa ragu dan takut.

Ragu dan takut adalah seteru kembarnya iman. Kadang-kadang, mereka justru merebut tempat iman, dan walau kita berdoa, doa yang resah pula gelisah yang kita panjatkan, tidak tenang dan sering mengeluh. Petrus gagal berjalan di atas danau Genesaret sebab ia membiarkan ombak memecah dia dan merendam kuasa imannya. Tak lagi memandang Tuhan dan menatap air yang membanjirinya, ia mulai tenggelam dan harus berteriak minta bantuan—"Tuhan, tolonglah aku!" (Matius 14:30)

Ragu jangan pernah dirawat, apalagi disimpan takut. Janganlah ada yang suka takut dan ragu akan khayalan jadi martir. Tak ada pujian bagi kapasitas mental manusia apapun yang suka ragu akan Allah, dan tak ada kenyamanan didapat dari pikiran seperti itu. Mata kita mestinya tidak melihat diri sendiri, dijauhkan dari kelemahan pribadi, dan direlakan bersandar sepenuhnya pada kekuatan Allah. “Janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” (Ibrani 10:35) Iman simpel dan membuat percaya, yang hidup dari hari ke hari, dan yang menyerahkan kuatirnya pada Tuhan (Yesaya 55:23), tiap jam tiap harinya, akan mengusir takut, menghalau waswas dan membebaskan dari ragu :
 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6
Ayat ini adalah penawar Ilahi untuk semua ketakutan, kegelisahan, keprihatinan jiwa yang tak mestinya, yang semuanya itu bertalian erat dengan ragu dan tak percaya. Inilah resep Ilahi untuk mengamankan damai sejahtera yang melampaui segala pengertian, dan menjaga hati dan pikiran dalam ketenangan dan kedamaian. 

Semua kita mesti baik-baik menyimak dan memperhatikan peringatan di kitab Ibrani : “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” (Ibrani 3:12)

Kita mesti, juga, berhati-hati dengan ketidak percayaan, seolah-olah kita akan melawan musuh. Iman mesti dibina. Kita patut terus berdoa, "Tambahkanlah iman kami," (Lukas 17:5) karena iman rentan bertambah. Kagumnya Paulus akan jemaat Tesalonika, dikarenakan iman mereka pesat bertambah (2 Tesalonika 1:3—KJV). Iman bertambah karena dilatih, dengan sering dipakai. Ia dipupuki oleh pencobaan pedih.
 “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” 1 Petrus 1:7
Iman tumbuh karena membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Biasanya, yang terbaik, iman tumbuh subur dalam suatu atmosfer doa.

Alangkah baiknya, bila semua kita berhenti, dan bertanya personal ke diri sendiri : “Adakah aku iman dalam Tuhan? Adakah aku iman sejati, —iman  yang menjagaku dalam damai sempurna, tentang hal-hal di bumi dan di surga?” Inilah pertanyaan paling penting seorang bisa ajukan dan harapkan dijawab. Dan ada pertanyaan lain, bertalian erat dengan itu, dalam makna dan signifikansi—“Apakah kubenar-benar berdoa pada Allah agar Ia mendengarku dan menjawab doaku? Dan apakah kusungguh-sungguh berdoa kepada Allah sehingga kudapat langsung dari Allah hal-hal yang kuminta dariNya?”

Kaisar Augustus dikatakan mengawali Roma kota kayu dan mengakhirinya kota marmer. Gembala yang sukses mengubah jemaatnya dari orang-orang yang tak berdoa menjadi pendoa, telah melakukan karya lebih dahsyat dari Augustus yang mengubah kota kayu jadi marmer. Lagipula, memang itulah tugas utama pengkotbah. Pada dasarnya, ia mengurus orang-orang yang tak berdoa—pada siapa dikatakan, “Tidak ada Allah dalam seluruh pikirannya!” (Mazmur 10:4—KJV) Orang-orang seperti itu ia temui dimana-mana dan kapan saja. Urusan utamanya ialah membalikkan mereka dari lupa akan Allah, dari kosongnya iman, dari tidak berdoa, agar mereka menjadi orang-orang yang lazim berdoa, yang percaya Allah, ingat Dia dan melakukan kehendakNya. Pengkotbah tidak diutus sekedar membujuk orang-orang bergabung ke gereja, apalagi sekedar mengajar berbuat lebih baik. Mestinya ia membuat mereka berdoa, yakin pada Allah, dan menjaga Allah selalu di mata mereka, agar mereka tidak berdosa padaNya.

Karya pelayanan ialah mengubah pendosa tak percaya menjadi orang-orang kudus yang berdoa dan percaya. Panggilan ini digerakkan oleh kekuasaan Ilahi, "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat.” (Kisah 16:31) Kita menangkap secuplik betapa pentingnya iman dan harga besar yang Allah tetapkan atasnya, saat kita ingat bahwa Dia sudah membuat satu syarat tak tergantikan untuk diselamatkan. “Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman.” (Efesus 2:8) Maka, saat kita renungkan betapa pentingnya doa, kita dapati iman lekas berdiri di sisinya. Oleh iman kita diselamatkan dan oleh iman kita tetap selamat. Doa mengenalkan kita kepada suatu hidup karena iman. Paulus berkata, hidup yang ia hidupi, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihinya dan menyerahkan diri-Nya untuknya (Galatia 2:20)—sehingga ia hidup karena percaya, bukan karena melihat. (2 Korintus 5:7)

Doa bergantung absolut pada iman. Hakekatnya, terpisah dari iman, doa tidaklah hidup, dan tidak mendapat apa-apa kecuali ada rekan tak terpisahkannya. Iman membuat doa ampuh dan dalam arti penting tertentu, wajib mendahului doa.
"Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ibrani 11:6
Sebelum doa bisa mulai menuju Allah; sebelum petisinya disodorkan, sebelum pesanannya disampaikan—iman wajib melangkah lebih dulu; wajib menegaskan percayanya pada eksistensi Allah; wajib mengiyakan kebenaran mempesona itu bahwa “Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Inilah langkah pertama berdoa. Dalam hal ini, walau iman tidak membawakan berkat, namun iman meletakkan doa di posisi meminta berkat, dan menuntun ke langkah lainnya menuju realisasi, dengan membantu pemohon untuk percaya bahwa Allah sanggup dan sudi memberkati. 

Iman memulai doa bekerja—membebaskan jalan menuju takhta kasih karunia. Iman memberi jaminan, pertama-tama, bahwa ada takhta kasih karunia, dan di sanalah sang Imam Besar menunggu pendoa dan doa. Iman membuka jalan supaya doa bisa menghampiri Allah. Tetapi iman melakukan lebih dari itu. Ia menemani doa di setiap langkah yang ia lalui, imanlah pasangan tak terpisahkannya dan ketika pesanan disodorkan ke Allah, imanlah yang mengubah permintaan menjadi penerimaan. Dan iman mengikuti doa, sebab hidup rohani dalam mana seorang percaya dipimpin oleh doa, adalah hidup karena iman. Satu-satunya karakteristik menonjol dari pengalaman dalam mana orang percaya diteguhkan doa, bukanlah hidup oleh perbuatan, tetapi karena iman.

Iman membuat doa jadi kuat, dan memberinya kesabaran menanti Allah. Iman percaya Allah adalah pemberi upah. Tak ada kebenaran disingkapkan di Kitab Suci lebih jelas dari ini, sebaliknya, tak ada yang lebih lagi memberi harapan. Kalau bilik doa punya upah yang dijanjikan, “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu," (Matius 6:4), apalagi pelayanan paling sepele yang dilakukan seorang murid di dalam nama Tuhan, niscaya menerima upahnya juga. Terhadap kebenaran berharga ini, iman sepenuh hati mengiyakan.

Namun iman dipersempit lagi ke satu hal khas—ia tidak percaya Allah akan memberi setiap orang upah, apalagi pemberi upah bagi semua yang berdoa, melainkan “Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6) Iman menyandarkan perhatiannya pada kesungguhan berdoa, dan memberi jaminan dan semangat bagi pemburu Tuhan, sebab mereka sajalah, yang diberi upah berlimpah ketika berdoa.  

Kita perlu terus-menerus diingatkan bahwa iman adalah satu-satunya syarat tak terpisahkan dari doa yang sukses. Ada pertimbangan lain yang muncul dalam prakteknya, tapi imanlah yang utama, satu-satunya syarat yang harus ada di doa sejati. Seperti ada tertulis di deklarasi utama yang kerap didengar : “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.”(Ibrani 11:6)

Yakobus menulis kebenaran ini sangat lugas.
“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat,” katanya, “hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang (atau ragu) sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” Yakobus 1:5-7
Ragu selalu dilarang, karena ia berdiri sebagai seterunya iman dan merintangi doa mujarab. Di surat pertama pada Timotius, Paulus memberi kita kebenaran tak ternilai sehubungan syarat doa sukses, yang ia tegaskan demikian : “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana setiap orang berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa ragu (1 Timotius 2:8—KJV)

Semua bertanya-tanya harus diwaspadai dan dihindari. Takut dan barangkali tidak punya tempat di doa sejati. Iman wajib menegaskan dirinya dan menyuruh seteru doa ini pergi.
Kekuasaan berlebihan tidak ditimbulkan oleh iman; tapi doalah tongkat kerajaan yang dengan mana iman menunjukkan kuasanya. Sungguhlah banyak hikmat rohani yang terdapat di nasihat berikut yang ditulis oleh tetua ilahi nan terkenal.
“Maukah kau bebas dari perbudakan kejahatan dosa?” tanyanya. “Maukah kau bertumbuh dalam kasih karunia pada umumnya dan bertumbuh dalam kasih karunia pada khususnya? Jika kau mau, jalanmu rata. Minta Tuhan iman lebih lagi. Mengemislah padaNya pagi hari, siang hari, dan malam hari, saat kau di jalanan, saat kau duduk di rumah, saat kau berbaring dan saat kau bangun; mengemislah padaNya sekedar menanam kesan hal-hal Ilahi lebih dalam di hatimu, untuk memberimu lebih dan lebih lagi dasar dari segala yang diharapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
 Insentif besar untuk berdoa disediakan di Kitab Suci, dan Tuhan kita menutup pengajaranNya tentang doa dengan jaminan dan janji Surgawi. Hadirnya Yesus Kristus di Surga, persiapan bagi orang-orang kudusNya yang Ia lakukan di sana, dan jaminan bahwa Ia akan datang lagi menjemput mereka—betapa semua ini meringankan bimbangnya doa, menguatkan konfliknya, mempermanis jerih payahnya.  Hal-hal ini adalah bintang harapan bagi doa, menyeka air matanya, menempatkan bau surgawi ke dalam getir tangisnya. Roh seorang pengembara sangatlah membantu doa. Roh terikat dunia, puas akan dunia, tidak bisa berdoa. Di hati seperti itu, kobaran hasrat spiritual entah padam atau menyala kecil dengan cahaya remang. Sayap imannya patah, matanya terlelap, lidahnya terkunci. Namun mereka yang dalam iman teguh dan doa tanpa henti, menanti-nantikan Tuhan, mendapat kekuatan baru, naik terbang dengan kekuatan sayap seperti rajawali; berlari dan tidak menjadi lesu, berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:31)

sumber : bab 2 buku the necessity of prayer oleh E.M. Bounds

Thursday, March 3, 2011

Doa dan Iman (I)


“Seorang teman baik saya yang senang berburu, pernah menceritakan saya cerita ini : ‘Suatu hari ketika saya bangun pagi-pagi’, katanya, ‘Saya mendengar longlongan sejumlah anjing pemburu yang mengejar mangsanya. Melayangkan pandangan jauh ke lapangan di depan, saya lihat seekor rusa muda berusaha menyebrang, dan lagi, terlihat ia berpacu dengan sungguh-sungguh. Ketika sampai di pagar, ia melompatinya dan merangkak sampai kurang 10 kaki dari tempat saya berdiri. Sesaat kemudian, dua anjing pemburu datang, ketika rusa muda itu lari ke arah saya dan mendorong kepalanya di antara kedua kaki saya, saya angkat mahluk kecil itu ke dada saya, berputar dan berayunan mengusir anjing-anjing itu. Pada saat itulah saya merasa semua anjing di dunia Barat tidak bisa dan tidak boleh menangkap rusa itu setelah kelemahannya memohon kekuatan saya’. Jadi seperti itulah, saat kelemahan manusia memohon pada Allah MahaKuasa. Dengan baik saya ingat saat anjing-anjing dosa mengejar jiwa saya, hingga akhirnya, saya lari ke lengan Allah MahaKuasa” –A.C. DIXON

DALAM semua kajian prinsip dan prosedur doa, aktivitasnya dan usahanya, tempat pertama, tidak bisa tidak, haruslah diberikan untuk iman. Iman adalah ciri awal di dalam hati setiap orang yang mencoba berbicara dengan yang Tak Terlihat. Ia harus, lepas dari ketidak berdayaan mutlak, mengulurkan tangan iman. Ia harus percaya yang tidak bisa ia buktikan. Dalam isu yang terutama, doa secara sederhana adalah iman, mengklaim hak prerogatif alami tapi menakjubkan—iman mengambil alih warisan yang tak terbatas. Kesalehan sejati tepat sama sejatinya, mantapnya dan sama tekunnya di dunia iman, seperti apa adanya di ranah doa. Lebih lagi: saat iman berhenti berdoa, ia berhenti hidup. 

Iman melakukan yang mustahil sebab ia membuat Allah melakukannya bagi kita dan tak ada yang mustahil bagi Allah. Sungguh luar biasa—tanpa kualifikasi atau batasan—kuasa iman! Bila keraguan disingkirkan dari hati dan ketidak percayaan menjadi asing di hati, apapun yang kita minta dari Tuhan niscaya dikabulkan, dan seorang yang percaya telah dianugrahkan kepadanya, “apapun yang ia minta.”

Doa memproyeksikan iman pada Allah dan Allah pada dunia. Hanya Allah yang bisa memindahkan gunung, tapi iman dan doa menggerakkan Allah. Dalam kutukanNya ke pohon ara, Tuhan kita mendemonstrasikan kuasaNya. Lalu sambungNya, bahwa kuasa yang besar diberikan pada iman dan doa, bukan untuk membunuh tapi menghidupkan, bukan menghempaskan tapi memberkati.

Pada titik ini di kajian kita, kita ingat perkataan Tuhan kita yang mana patut ditegaskan sebab perkataan ini adalah batu kunci terpenting pengunci jembatan antara iman dan doa. 

 “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Markus 11:24
Kita mesti renungkan baik-baik kalimat ini, “percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Di sini dijelaskan suatu iman yang menyadari, memperuntukkan, mengambil. Iman seperti itu adalah suatu kesadaran sang Ilahi, persekutuan yang telah dialami, kepastian yang disadari.

Apakah iman bertumbuh atau berkurang seiring tahun-tahun berlalu? Apakah iman berdiri tegak dan kukuh hari-hari ini saat kejahatan melimpah ruah dan kasih sebagian besar orang menjadi dingin? Apakah iman mempertahankan genggamannya, ketika agama cenderung menjadi formalitas picisan dan keduniawian makin berjaya? Pertanyaan Tuhan kita mungkin dengan sangat tepat ditujukan ke kita, “Ketika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Kita percaya Ia akan datang, dan inilah bagian kita di hari-hari kita ini, untuk memastikan lampu iman dirapikan dan menyala, kalau-kalau Ia yang akan datang, datang segera.

Iman adalah pondasi dari karakter orang Kristen dan keamanan dari jiwa. Sewaktu Yesus menubuatkan penyangkalan Petrus dan mengingatkan dia, Ia berkata pada murid-muridNya :
“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur." Lukas 22:31-32
Tuhan kita menyampaikan kebenaran sentral, imannya Petruslah yang Ia berusaha jagai; sebab dengan baik Ia tahu bahwa saat iman diruntuhkan, pondasi hidup spiritualpun roboh, dan seluruh struktur pengalaman religiuspun runtuh. Iman Petruslah yang butuh penjagaan. Maka, kemasygulan Kristus ialah kesejahteraan jiwa murid-muridNya dan tujuanNya ialah membentengi iman Petrus dengan semua doa-doa pribadiNya yang hebat.
Di suratnya yang kedua, Petrus ingat ide ini ketika bicara tentang pertumbuhan dalam kasih karunia sebagai ukuran keselamatan pada hidup orang kristen, seraya menyiratkan tentang berbuah. 
 “Justru karena itu,” ia katakan, “ kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan.” 2 Petrus 1:5-6
 Pada proses penambahan ini, iman adalah titik awalnya—dasar bagi kasih karunia lainnya dari Roh. Imanlah pondasi yang di atasnya hal-hal lainnya akan dibangun. Petrus tidak menyuruh pembacanya menambahi usaha atau karunia atau kebaikan, tetapi iman. Banyak hal bergantung pada awal yang benar di urusan bertumbuh dalam kasih karunia ini. Ada urutan Ilahi yang mana Petrus sadari, lalu ia lanjut berkata bahwa kita harus berusaha sungguh-sungguh membuat panggilan dan pilihan kita makin teguh; pilihan yang mana memberi suatu tambahan pada iman yang selanjutnya dikerjakan oleh doa terus-terusan lagi sungguh-sungguh. (2 Petrus 1:10) Demikianlah, iman dijaga tetap hidup oleh doa dan setiap langkah yang ditempuh pada penambahan kasih karunia ke kasih karunia selalu disertai doa.

Iman yang menciptakan doa yang berkuasa ialah iman yang berpusat pada Pribadi yang berkuasa. Iman pada kemampuan Kristus untuk melakukan dan melakukannya dengan luar biasa, ialah iman yang berdoa dengan luar biasa. Karena itu penderita kusta bergantung penuh pada kuasa Kristus, ia berseru “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Matius 8:2) Dari contoh ini, kita diperlihatkan bagaimana iman berpusat pada kemampuan Kristus melakukan dan bagaimana iman itu memastikan adanya kuasa kesembuhan. 

Menyangkut hal inilah, maka Yesus menanyai orang buta yang datang kepadaNya untuk disembuhkan :
"Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Ia bertanya. Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Matius 9:28-29
Adalah untuk mengilhamkan iman tentang kemampuanNya melakukan, yang Yesus tinggalkan buat kita, yaitu amanat agung terakhir, yang dalam analisis akhir adalah dering tantangan terhadap iman. “Kepada-Ku telah diberikan”, Ia berseru, “segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:17)

Sekali lagi : iman adalah ketaatan, bergerak saat diperintahkan, seperti dilakukan pegawai istana yang anaknya sakit keras dan datang kepada Yesus, di hari-hariNya sebagai manusia. (Yohanes 4:49)

Dan lagi, iman seperti itu bertindak. Seperti pria terlahir buta, ia pergi membasuh dirinya di kolam Siloam, ketika disuruh “basuhlah dirimu” (Yohanes 9:7). Seperti Petrus di danau Genesaret, ia menebar jala ke tempat Yesus perintahkan, dengan segera, tanpa pertanyaan atau keraguan (Lukas 5:4-5). Iman seperti itu mengangkat batu dari gua kubur Lazarus dengan segera. Iman yang berdoa menuruti perintah Tuhan dan melakukan hal-hal yang berkenan di pandanganNya. Iman itu bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau mau aku lakukan?”(Kisah 9:6—KJV) dan lekas menjawab, “Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (1 Samuel 3:9) Ketaatan menolong iman, dan iman, balik menolong ketaatan. Melakukan kehendak Allah bersifat esensial bagi iman sejati dan iman dibutuhkan bagi ketaatan tulus.

Kalaupun iman dipanggil datang, toh, segera sesudahnya sering harus menunggu dengan sabar di hadapan Tuhan dan disiapkan akan nampaknya penundaan Tuhan dalam menjawab doa. Iman tidak jadi hilang percaya hanya karena doa tidak segera digubris; iman memegang FirmanNya dan menyerahkan padaNya saat terbaik yang Ia pilih dalam mengabulkan tujuanNya dan meneruskan pekerjaanNya. Ada batasan dalam bentuk penundaan yang lama dan berhari-hari panjang menunggu bagi iman sejati, namun iman menerima kondisi ini—tahu akan ada penundaan dalam menjawab doa dan menganggap penundaan itu sebagai masa-masa pengujian, yang dalam mana, adalah hak istimewa untuk menunjukkan ketabahannya dan keseriusan yang membentuknya.

Cerita Lazarus adalah suatu contoh di mana terjadi penundaan, di mana iman dua perempuan baik dengan berat diuji: Lazarus sedang sakit kritis dan mereka mengabari Yesus. Tetapi, tanpa alasan jelas, Tuhan kita menunda datang menolong temanNya yang sakit. Permohonannya sangat urgen dan menyentuh hati—“Tuhan, dia yang engkau kasihi, sakit.” (Yohanes 11:3) Namun, Tuhan tidak tergerak dan permintaan sungguh-sungguh perempuan itu seakan-akan didengar telinga tuli. Sungguh pencobaan bagi iman! Selain itu, berlambat-lambatnya Tuhan kita nampaknya membawa bencana tanpa harapan. Selagi Yesus berlambat-lambat, Lazaruspun meninggal. 

Akan tetapi, penundaan Yesus dilakukan dalam minat akan kebaikan yang lebih besar. Akhirnya, Ia mendatangi rumah di Betania. 
“Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;  tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." Yohanes 11:14-15
Takutlah jangan, O orang percaya yang diuji dan dicobai, Yesus pasti datang, bila kesabaran dilatih dan iman memegang teguh. PenundaanNya dipakai untuk membuat kedatanganNya lebih kaya berkat. Berdoalah. Nantikanlah. Engkau tidak akan gagal. Jika Kristus menunda, tunggulah Dia. Di waktuNya sendiri yang tepat, Ia akan datang dan tidak akan berlambat-lambat.

Penundaan sering kali adalah ujian dan kekuatan dari iman. Betapa besarnya kesabaran dibutuhkan sewaktu ujian ini tiba! Toh, iman menghimpun kekuatan dengan menunggu dan berdoa. Kesabaran berkarya sempurna di sekolah penundaan. Dalam beberapa hal, penundaan adalah hakiki dari doa. Allah harus melakukan banyak hal, mendahului jawaban akhir—hal-hal esensial untuk kebaikan kekal orang yang telah meminta kemurahan tanganNya.

Yakub berdoa dengan pendirian dan gairah supaya diluputkan dari Esau. Tetapi sebelum doanya dijawab, ada banyak yang harus dilakukan dengan dan untuk Yakub. Ia harus diubah seperti halnya Esau. Yakub harus dibuat jadi manusia baru sebelum Esau bisa. Yakub harus didamaikan dengan Allah sebelum Esau dapat didamaikan dengan Yakub.

Di antara ucapan Yesus yang besar nan berkilauan tentang doa, tiada yang lebih menawan daripada ini :
 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;  dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Yohanes 14:12-14.
Sungguh mengagumkan pernyataan ini tentang apa yang Allah lakukan dalam menjawab doa! Tentang betapa begitu pentingnya kata-kata berdering ini, diprakatai, apa adanya, dengan kebenaran penuh khidmat! Iman dalam Kristus adalah dasar semua karya dan semua doa. Semua karya ajaib bergantung pada doa ajaib dan semua doa dilakukan dalam nama Tuhan Yesus. Pelajaran menakjubkan, dari kesederhanaan ajaib, inilah doa di dalam nama Tuhan Yesus! Semua syarat-syarat lainnya disusutkan, segala sesuatu lainnya dilepaskan, hanya Yesus saja! Nama Kristus—Pribadi Tuhan kita dan Juru Selamat Yesus Kristus—harus sangat ditinggikan di dalam jam dan perkara doa.

Bila Yesus mendiami mata air hidupku; bila aliran-aliran hidupNya telah mengganti dan meniadakan aliran-aliran pribadi; bila ketaatan tulus padaNya menjadi ilham dan gaya bagi setiap pergerakan hidupku, maka Ia bisa dengan aman menyerahkan doa sesuai kehendakku dan diriNya berjanji melalui suatu perjanjian sebesar hayatNya sendiri bahwa apapun yang diminta akan dikabulkan. Tiada yang bisa lebih jelas, lebih berbeda, lebih tak terbatas dalam terapan dan jangkauan selain ajakan dan urgensi perkataan Kristus, “Percayalah kepada Allah (Markus 11:22).”

Iman melingkupi kebutuhan temporal sama baiknya seperti kebutuhan rohani. Iman mengusir semua keresahan tak semestinya dan perhatian tak perlu tentang apa yang akan dimakan, apa yang akan diminum, apa yang akan dipakai. Iman hidup di masa kini dan menganggap “kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Iman hidup hari demi hari dan mengusir semua ketakutan hari esok. Iman membawa ketentraman pikiran dan damai sejahtera sempurna di hati.
“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” Yesaya 26:3
Saat kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11)”, kita, dalam ukuran tertentu, mencegah masuknya esok hari ke doa kita. Kita tidak hidup di besok hari, tapi hari ini. Kita tidak mencari kasih karunia besok hari atau roti besok hari. Mereka tumbuh pesat dan memperoleh banyak dari hidup, yang hidup di kehidupan masa kini. Mereka berdoa sangat baik, yang berdoa untuk kebutuhan hari ini, bukan untuk besok hari yang dapat mengubah doa kita tak berguna dan mubazir, seakan-akan tidak eksis sama sekali!

Doa sejati lahir dari pencobaan dan kebutuhan masa kini. Roti untuk hari ini, cukuplah itu. Roti yang diberikan untuk hari ini, semacam janji terkuat bahwa akan ada roti untuk besok. Kemenangan hari ini adalah kepastian bagi kemenangan besok. Doa-doa kita perlu difokuskan pada masa kini. Kita harus percaya Allah hari ini dan tinggalkan hari esok seluruhnya padaNya. Masa kini milik kita; masa depan milik Allah. Doa adalah tugas dan kewajiban harian yang berulang terus menerus—doa harian untuk kebutuhan harian. 

Seperti tiap hari menuntut rotinya, maka tiap hari menuntut doanya. Tidak ada jumlah doa, dilakukan hari ini, yang mencukupi doa besok hari. Di sisi yang lain, tidak ada doa besok hari yang begitu berharganya untuk kita hari ini. Manna hari inilah yang kita butuhkan; besokpun Tuhan akan pastikan kebutuhan kita terpenuhi. Inilah iman yang Allah hendak ilhamkan. Jadi tinggalkan besok hari dengan kekhawatirannya, kebutuhannya, masalahnya di tangan Allah. Tidak ada gudang penimbunan kasih-karunia-besok-hari maupun doa-besok-hari; apalagi suplai kasih karunia hari ini untuk kebutuhan besok hari. Kita tidak bisa memiliki kasih-karunia-besok-hari; kita tidak bisa makan roti-besok-hari, kita tidak bisa memanjatkan doa-besok-hari. “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34)” dan sangatlah pasti, bila kita punya iman, cukuplah juga hal-hal yang baik. 

sumber : bab 1 buku the necessity of prayer oleh E.M. Bounds